 SERBA SERBI
| |
 | BUKU | Feb 14, '08 9:39 AM for everyone |
YANG BARU DARI AYAT-AYAT CINTA
| Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | KCB |
WAHH DAH LAMA NUNGGU AKHIRNYA TERBIT JUGA
| Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Buku |
ini buku baru
 | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | OK |
Novel dengan nafas Islami karya Habiburrahman El Shirazy ini benar-benar membuatku terhipnotis sejak kemarin. Entah kenapa, seorang yang sebenarnya sangat sangat sangat malas membaca ini tiba-tiba bisa mengkhatamkan buku setebal 470 sekian halaman (termasuk prolognya) dalam 2 hari. Novel dwilogi yang ditulis sejak 20 Juli 2005 dan baru selesai 22 September 2006 ini membawa kita kepada kehidupan para mahasiswa yang belajar di Mesir. Tidak heran karena penulisnya sendiri memiliki background pendidikan di Al-Azhar University Cairo. Maka jangan heran apabila sepertinya beliau sangat hafal mengenai nama jalan, budaya, makanan-makanan khas Mesir, bahkan nomor bus berikut tujuannya, seperti yang ditulis dalam novelnya.
Pemuda kurus namun pekerja keras yang menjadi tokoh utama dalam novel ini bernama Azzam. Sudah 9 tahun lamanya ia belajar di negerinya Nabi Musa. Bukan karena bodoh ataupun malas yang menyebabkan ia tidak lulus dengan segera. Namun pilihannya untuk menjadi penyokong tulang punggung keluarganya lah yang membuat ia harus merelakan waktunya untuk terbagi, antara kuliah dan bekerja. Hal itu disebabkan oleh kepergian Ayahnya menemui Sang Khalik setelah 1 tahun Azzam meninggalkan Indonesia. Bekerja sebagai entrepreneur di bidang kuliner pun dilakoninya dengan membuat tempe dan bakso, dan sesekali menerima jasa katering. Itu semua demi mencukupi kebutuhan Ibu dan ketiga adiknya.
Berbeda 180 derajat dengan Azzam, Furqan, yang merupakan teman sepesawat Azzam ketika berangkat dari Indonesia, dikisahkan sebagai seorang mahasiswa S2 yang kaya, cerdas, tampan, hingga tidak ada alasan untuk wanita mana pun menolak pinangannya. Namun di tengah cerita, ia mendapatkan cobaan yang paling berat selama hidupnya. Bahkan lebih berat daripada kematian. Ada lagi tokoh bernama Fadhil. Mahasiswa Aceh yang seatap dengan Azzam ini mengalami dilema begitu dahsyat dalam masalah yang paling sensitf bagi manusia, yaitu masalah hati, atau dengan kata lain, masalah cinta. Ketiga karakter ini lah yang terasa begitu kental mewarnai karya Kang Abik kali ini. 
 | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | OK |
''Penulis novel ini berhasil menggambarkan latar (setting) sosial-budaya Timur Tengah dengan sangat hidup tanpa harus memakai istilah-istilah Arab. Bahasanya yang mengalir, karakterisasi tokoh-tokohnya yang begitu kuat, dan gambaran latarnya yang begitu hidup, membuat kisah dalam novel ini terasa benar-benar terjadi. Ini contoh novel karya penulis muda yang sangat bagus!''AHMADUN YOSI HERFANDASastrawan dan Redaktur Budaya Republika''Jarang ada buku seperti ini. Saya tidak yakin akan ada novel serupa dari penulis muda Indonesia lainnya; saat ini bahkan mungkin hingga beberapa puluh tahun ke depan. Begitu menyentuh. Begitu dalam. Dan begitu dewasa!''MOHAMMAD FAUZIL ADHIMPsikolog dan Penulis Buku-buku Best Seller''Jika Naguib Mahfuz menulis Mesir dari pandangan orang Mesir, maka Mesir kali ini ditulis dalam pandangan orang Indonesia. Novel ini ditulis oleh orang Indonesia yang paham betul seluk-beluk negeri itu, hingga ke detail-detail yang paling kecil. Ia hidup, berbaur dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari; lalu menyerap spirit dan pengetahuan darinya, dan dituangkan dengan sepenuh hati dalam bentuk novel kaya. Ditulis dengan bahasa yang lancar, dengan tokoh-tokoh yang 'hidup' dan berkelebatan dalam berbagai karakter. Membaca novel ini seperti membuka cermin cakrawala yang terbuka...''JONI ARIADINATACerpenis, Redaktur Jurnal Cerpen Indonesia''Novel yang tidak klise dan tak terduga pada setiap babnya. Habiburrahman El Shirazy dengan sangat meyakinkan mengajak kita menyelusuri lekuk Mesir yang eksotis itu, tanpa lelah. Tak sampai di situ, Ayat Ayat Cinta mengajak kita untuk lebih jernih, lebih cerdas dalam memahami cakrawala keislaman, kehidupan dan juga cinta.''HELVY TIANA ROSAKetua Umum Forum Lingkar Pena''Membaca Ayat Ayat Cinta ini membuat angan kita melayang-layang ke negeri seribu menara dan merasakan 'pelangi' akhlak yang menghiasi pesona-pesonanya. Sungguh sebuah cerita yang layak dibaca dan disosialisasikan pada para pemburu bacaan popular yang sudah tidak mengindahkan akhlak sebagai menu utamanya, agar dunia bacaan kita terhiasi karya-karya yang 'membangun'.''RATIH SANGARWATIArtis dan Peragawati''Membaca novel ini, nutrisi cinta seakan mengalir memenuhi jiwa. Dan pikiran kiat terpenuhi oleh berbagai pengetahuan dan wawasan. Inilah karya fiksi yang tidak 'mengelabui'. Bagus sekali.''ANNA R. NAWANINGCerpenis dan Penulis Sastra Islami''Sangat romantis dan humanis! Novel ini saya rasakan begitu kuat dalam ajaran, perasaan, dan penokohannya. Luar biasa, hati saya gerimis selesai membacanya!''HAMIZAR ''BAZARVIO'' RIDWANSastrawan dan Wartawan Pontianak Post 
 | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | OK |
Buku yang indah ditulis dalam kesadaran ibadah. Buku ini mengajak kita mencintai kehidupan, juga kematian, mencintai anugerah juga musibah, dan mencintai indahnya hidayah
Habiburrahman El Shirazy ( Novelis . Penulis Best Seller Ayat-ayat Cinta )
Novel ini disajikan dengan gaya sederhana namun sangat menyentuh. Penulis berhasil menghadirkan tokoh-tokoh dan suasana dengan begitu hidup. Islami dan luar biasa. Pantas dibaca oleh siapa saja yang ingin mendapatkan pencerahan rohani
Ahmadun Yosi Herfanda ( Sastrawan dan Redaktur Sastra Republika )
Dramatis, tanpa perlu hiperbolik. Menyentuh, tanpa perlu mengharu biru. Kecerdasan dalam kepolosan. Terkadang malu sendiri ketika menyimak si mungil Delisa. Seolah menonton film dokumenter ketika membacanya lembar demi lembar. Two thumbs up ! 
 | Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | OK |
Hey Friend The Movie is Avatar Veri Good 
 Home about contact photocgraph Di Telapak Tangan Itu Ada Mata dan Telinga : resensi novel Moga Bunda Disayang Allah
moga bunda Novel Moga Bunda Disayang Allah ini adalah novel karangan Tere-Liye kedua yang diterbitkan oleh Republika yang bercerita tentang kanak-kanak. Cerita ini diilhami dari kisah nyata Hellen Adams Keller. Keller lahir 27 Juni 1880 di Alabama. Ia sebenarnya tidak terlahir buta dan tuli ( sekaligus bisu), hingga usia 19 ketika keterbatasan itu datang. Ibunya membawa Hellen menemui Alexander Graham Bell yang saat itu sedang menangani anak-anak tuli. Bell, menyarankan Hellen dan ibunya ke Institute Perkins for The Blind, di Boston. Institut ini lalu mengirimkan Anne Sullivan untuk menjadi guru Hellen.
Tahun 1980, Hellen mulai belajar bicara dengan menggunakan metode Tadoma. Metode Tadoma adalah metode berbicara menggunakan gerakan tangan, menyentuh bibir dan menyentuh leher. Ibu jari dibibir pembicara dan ketiga jari tengahnya menyentuh leher pembicara. Dalam Novel ini diceritakan seorang anak bernama Melati penderita buta dan tuli untuk bisa mengenali dunia, dan juga perjuangan seorang Pemuda bernama Karang untuk bisa keluar dari perasaan bersalah setelah kematian 18 anak didiknya dalam kecelakaan kapal.
Melati bocah berusia 6 tahun yang buta dan tuli sejak dia berusia 3 tahun. Selama 3 tahun ini dunia melati gelap. Dia tidak memiliki akses untuk bisa mengenal dunia dan seisinya. Mata, telinga dan semua tertutup baginya. Melati tidak pernah mendapatkan cara untuk mengenal apa yang ingin dikenalnya. Rasa ingin tahu yang dipendam bertahun tahun itu akhirnya memuncak, menjadikan Melati menjadi frustasi dan sulit dikendalikan. Orang tuanya berusaha berbagai macam cara untuk bisa mengendalikan Melati. Bahkan tim dokter ahli yang diundang oleh orang tuanya tidak berhasil mengendalikan Melati. Adalah Karang, yang akhirnya menjadi guru Melati. Karang sebenarnya hampir kehilangan semangat hidupnya setelah 18 anak didiknya tewas dalam kecelakaan perahu. Perasaan bersalahnya hampir setiap hari menghantuinya selama 3 tahun terakhir. Dia bahkan hampir tidak berminat ketika ibunya Melati memintanya untuk membimbing Melati. Tapi demi cintanya terhadap anak-anak Karang akhirnya datang memenuhi permintaan ibunya Melati.
Tidak mudah untuk menemukan metode pengajaran bagi Melati. Bagaimana caranya Melati bisa mendengar apa yang dikatakan Karang ?, bagaimana caranya Melati bisa melihat? Bahkan untuk menangis saja Melati tidak bisa menemukan kosakata yang benar. Dunia Melati benar-benar gelap. Melati tidak mempunyai akses untuk tahu. Tidak mempunyai cara untuk mengenal apa yang ingin dia kenal. Karang hampir putus asa. Lalu keajaiban datang ketika air mancur membasuh lembut telapak tangan Melati. Melati merasakan aliran air di sela jemarinya. Saat itulah untuk pertama kalinya Karang melihat Melati tertawa. Karang akhirnya mengerti, melalui telapak tangan itulah karang menuliskan kata Air, dan meletakkan telapak tangan Melati kemulutnya dan berkata A-I-R. Melati akhirnya mengerti benda yang menyenangkan itu bernama air. Melalui telapak tangan Melati, air mancur yang mengalir di tangan dan sela-sela jarinya berhasil mencukilnya. Melalui telapak tangan itulah semua panca indera disitu. Akhirnya dunia Melati tidak lagi gelap. Dia bisa mengenali orang tuanya, dia bisa mengenali kursi, sendok, pohon dan sebagainya.
Cerita ini sungguh menyentuh, membuat saya tersadar walaupun kita mempunyai banyak kekurangan lantas tidak membuat kita lemah. Akan ada berjuta cara untuk menutupi kekurangan kita. Sekilas, kalau melihat gambar sampul, judul buku dan pengarangnya saya mengira novel ini bertema religius seperti novel-novel ciptaan Tere-Liye sebelumnya. Namun ternyata saya salah. Dalam menuliskan hal-hal yang religius tidak dituturkan secara vulgar sehingga Novel ini cocok untuk dibaca semua kalangan.
POSTED BY eefa ON 03.19.07 @ 5:37 am | 
 Saya kuliah di AIK AKBA n sekarang udah semester V n Tahun ini AKBA menjadi STTIK udah berubah status S1 
| |